Oleh: M. Umar
Saatku teduh
disana, aku disuruh pulang
kalaku nyaman
disana, aku diusir pulang
Aku pulang
diantar dan yang mengantar tak berwujud dimata
Kucoba cari tahu
namanya
Tibaku
tak disambut, hadirku pun tak dinanti
Mereka
buang muka dan daku diasingkan diruang hampa
Letihku
Mencuri-curi keramaian kala senja
Dicelah-celah
dinding kamar tua
Malam dirasa
lama dalam hening kesendirian
Telinga bosan
tak lagi mau mendengar mata pun jenuh mengeja
Karna disini,
disana, dimaya dan nyata
Corona
memerankan tema bicara, lagi dan lagi.
Lingkaran
sang mentari nampak paripurna
Seiring
Daku mendengar gema tuturan anak muda
Menolak nasinya tanpa garam
Menafikkan
nasinya tampa teri murahan
Bundanya lirih
menyambut tuturannya
“Nak, pasar
diujung desa tak lagi tampak”
Sontakku ingin
mendobrak dinding lapuk kamarku
Lalu
mengingatkan, “bukan pasar tapi sekolah yang tak lagi tampak”
Sebentar
terdengar lagi bisikan lirih sang bunda
“Bunda
tiada uang tuk mengulak lauk”
“Makanlah
saja seadanya”
Dakku
kembali terjatuh dalam lembah kepiluan
Tuanku yang
tamak semakin tamak
Tuanku yang
serakah semakin serakah
Ketidak adilan
meraja lela
Lalu ku katakan,
ini bukan salah corona
Komentar
Posting Komentar