NOSTALGIA GERAKAN PKI DI BIMA
La_Yadi
Tanggal 30 September 1965
adalah salah satu sejarah kelam di negri ini seperti yang dikatakan peri sandi di dalam bait
puisinya yaitu pembantaian 6 jendral 1 perwira mati dilubang tak berdaya
tidak ada dalam perang mahabarata bahkan disejarah dunia hanya ada disejarah Indonesia. Himpunan
Mahasiswa Bima UIN malang menolak lupa dengan sejarah kelam di
negri ini khusunya di daerah Bima itu sendiri, maka pada tanggal 30 September 2022
Himpunan Mahasiswa Bima UIN Malang merefleksi atau bernostalgia gerakan
PKI di Bima.
Dalam
penyampaian narasumber Fahrur Rizki seorang sejarawan sekaligus pemerhati
Budaya gerakan PKI di Bima dimulai pada Desember 1965. Gerakan PKI di Bima bukan
gerakan murni komunisme melainkan gerakan politik balas dendam antara Masyumi dan PKI.
PKI di Bima dibawa oleh
orang China dari Surabaya yang
berlayar ke Bima akibat efek dari gestapu dan mencari kader di berbagai titik
dan salah satu basis kader terbesar ada di Sila.
Akibat dari
politik balas dendam banyak sekali darah yang jatuh di tanah Bima
pada masa itu. Wadu Mbolo dan Ncai Kapenta adalah dua tempat yang menjadi saksi
bisu pembantaian kader-kader PKI. Pada tanggal 20 Desember merupakan tanggal
pembersihan kader-kader PKI di Raba Dompu Kota Bima dan dieksekusi di Ncai Kapenta.
Sedangkan di Sila pada tanggal 15 Desember beberapa rumah
kader PKI dibakar.
Gestapu yang
berada di Jawa membawa dampak terhadap gerakan PKI di Bima. Banyak
sekali seniman atau sastrawan yang juga menjadi korban pada saat itu karena
para seniman bergabung di salah satu lembaga kesenian yang dibawah naungan PKI
yaitu “Lembaga Kesenian Rakyat” (Lekra). Ada juga gerakan-gerakan wanita pada masa itu yang
di naungi oleh lembaga atau organiasi wanita yang dikenal dengan “gerakan
wanita” (Gerwani).
Dari gestapu
banyak istilah-istilah yang muncul dalam bahasa Bima seperti “Mpoka Patlo”.
Mpoka patlo adalah
istilah yang muncul dari pengaruh gestapu, istilah ini muncul akibat banyak
anak-anak dari kader PKI yang tidak sekolah karena dibuli dan dimarzinalkan,
lebih lagi pada masa orde baru saat tap MPR 1966 di keluarkan.

Komentar
Posting Komentar