SUKSES!! HMB UIN Malang Berhasil Mengadakan Gelar Seni Budaya 2025 dengan tema "Revitalisasi Nilai Tradisi Menuju Kebangkitan Seni dan Budaya Bima di Indonesia” Desember 20, 2025 Modernisasi yang melaju pesat kerap menempatkan tradisi pada posisi pinggir. Di tengah arus globalisasi, nilai-nilai lokal sering kali dianggap usang, tidak relevan, bahkan tertinggal. Padahal, tradisi justru menyimpan identitas, kearifan, dan ruh kebudayaan yang menjadi fondasi keberlanjutan suatu masyarakat. Kesadaran inilah yang tercermin dalam Gelar Seni Budaya Himpunan Mahasiswa Bima (HMB) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang diselenggarakan pada 15 November di Auditorium Kampus 2 UIN Malang, dengan tema “Revitalisasi Nilai Tradisi Menuju Kebangkitan Seni dan Budaya Bima di Indonesia.” Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga medium reflektif untuk menegaskan kembali eksistensi budaya Bima dalam lanskap kebudayaan nasional. Melalui tarian tradisional, musik daerah, busa...
Oleh : Nuraidah
Terlihat biasa tapi sebenarnya luar biasa..menyatukan perbedaan adalah hal yang tidak semua orang bisa melakukannya..menjadikan shilah sebagai tujuan aktivitas ini..
terlalu naif bila kita melalaikan siapa kita di dunia ini.. abdillah yang tugasnya mengabdi kepada Tuan Nya... hamba Allah, jelaslah disini kita tidak bisa menutup mata terhadap ketentuan yang menjadi larangan dan perintah Nya..
Fastabiqul khoiroot (berlomba-lomba dalam kebaikan).. itu juga bagian dari hal yang di cintai Nya.. memposisikan diri dalam suatu wadah yangbisa mendukung aktivitas kita dalam mendekatkan diri kepada Nya adalah suatu posisi yang patut di syukuri. Tidak semua orang bisa mendapatkan posisi ini, setidaknya kita yang sudah memposisikan diri bisa menggunakan kesempatan ini untuk hal-hal yang baik.
Himpunan Mahasiswa Bima dijadikan wadah dalam mempererat shilah ini. Selain habluminallah, hablu minannas juga amat penting dalam kehidupan kita. Ketika kita bisa menjalin hubungan baik dengan manusia tentu saja Allah akan ridho dengan aktivitas kita. Pernah ketika saya MA AL HUSAINY kelas XII ditanyakan oleh guru matematika saya. Beliau adalah guru teladan yang dimana keilmuan akan bidang matematika itu top bangat.. (hehehhehehe)
Siapa yang hafal qur'an ? Dalam Al -qur'an itu hablu minallah dulu atau hablu minannas ? Hablu minallah bu guru (jawabku). Oleh bu guru di tanggapi lagi. Ya memang dalam Al-Qur'an disebutkan terlebih dahulu hablu minallah baru hablu minannas, tapi menurut saya itu kebalikannya, hablu minannas dulu baru hablu minallah. Jikalau habluminallah kita terjaga tetapi hablu minannas kita minim, lalu apa implementasi hablu minallah kita jika hablu mina nnas kita tidak bisa di jaga (pembahasan berhenti) dan kita melanjutkan pelajaran matematika.
Sejenak kita sekelas berpikir dan mengiyakan kata beliau( saling memandang dan melempar senyum). Yang pada intinya kesimpulan dari saya kedua-duanya sama-sama di dahulukan. Anggap saja huruf wauw diantara hablu minannas dan habluminannas itu wau athof yang diartikan bergandengan sehingga sama-sama di dahulukan..
Lalu mengapa saya tulis KEKELUARGAAN ITU ADA DI UIN MALANG ? sebelum saya menceritakan apa yang saya alami dan rasakan ketika bersama dengan teman-teman Hmb sendiri saya sedikit bercerita : ketika itu saya izin tidak mengikuti kegiatan HTQ UIN MALANG disebabkan saya menginap di rumah sakit menemani salah seorang anggota Hmb yang sakit. Esok harinya saya bertemu dengan teman saya itu dan dengan langsung saya meminta maaf karena tidak bisa mengikuti kegiatan tadi malam. Dan seketika itu teman saya bertanya " ayda, kenapa kok kamu yang menemani ? Emang gak ada keluarganya ? Sejenak saya tersenyum lalu menjawab "sayakan keluarganya mbak, jadi saya dan teman-teman bima yang lainnya yang menemani, kita bergantian secara shif per shif, hehehehe.. kalau bukan kita sesama bimanya siapa lagi yang lain mbak yang bisa dimintai tolong , dan alhamdulillah semua teman-teman bima peka bila ada salah seorang dari anggota kita yang sakit". Oleh teman saya di jawab "Ma sha Allah, saya salut sekali sama orang bima itu ya, kekeluargaannya itu kental sekali, saya jadi iri. Dan mbak ayda juga sering kumpul-kumpul yah, setiap ditanyain pasti kumpulnya sama anak-anak bima, andai saya juga begitu "(tutur temanku)..
Itu sekilas ceritanya. Dan tidak jauh beda dengan apa yang saya rasakan, dimana saya benar-benar merasakan kekeluargaan disini. Ketika bertemu dengan teman-teman HMB rasanya pertemuan itu tidak ingin ku akhiri. Perasaan ini bukan hanya saya saja yang merasakan, tetapi dari anggota-anggota HMB yang lain juga merasakannya.benar adanya kekeluargaan itu ada di HMB UIN MALANG.

isi tulisannya mana?
BalasHapusTulisannya bru, silahkan dibaca yah,, hehehe sekalian koreksiannya
BalasHapus